2026-08-08

Why it's bilingual ID/EN, always Kenapa selalu dwibahasa ID/EN

Every string in Tenang exists as one dictionary entry with both an Indonesian and an English half — not an English app translated after the fact. Setiap teks di Tenang ada sebagai satu entri kamus dengan bagian Indonesia dan Inggris sekaligus — bukan aplikasi berbahasa Inggris yang diterjemahkan belakangan.

Tenang ships in Indonesian and English from the same file, at the same time — not a translation pass bolted on after the English version was already done. Tenang dirilis dalam bahasa Indonesia dan Inggris dari berkas yang sama, pada saat yang sama — bukan proses terjemahan yang ditempel belakangan setelah versi bahasa Inggrisnya selesai lebih dulu.

One dictionary, not two apps Satu kamus, bukan dua aplikasi

Every piece of interface text lives as one entry in a single dictionary — a key, an Indonesian string, and an English string, together. There's no separate "translated" build; a screen reads through one function that picks whichever language you're using from that same source. Setiap teks antarmuka ada sebagai satu entri di dalam satu kamus — sebuah kunci, teks bahasa Indonesia, dan teks bahasa Inggris, bersamaan. Tidak ada build "terjemahan" yang terpisah; setiap layar membaca lewat satu fungsi yang memilih bahasa yang sedang kamu pakai dari sumber yang sama itu.

Nothing hardcoded in a screen Tidak ada teks yang ditulis langsung di layar

Screens never contain literal English or Indonesian text — every label, button, and message comes from that shared dictionary. If a string isn't in there with both halves, it doesn't ship. Layar tidak pernah berisi teks bahasa Inggris atau Indonesia yang ditulis langsung — setiap label, tombol, dan pesan berasal dari kamus bersama itu. Kalau sebuah teks belum ada dengan kedua bagiannya, teks itu tidak akan dirilis.

Why bother Kenapa repot-repot begini

Indonesian isn't a second-class translation of an English-first product. For a lot of people who'll use this, it's the language they'd actually reach for at the end of a hard day. Treating both as equally first from the start was the only way to make that true, instead of just saying it. Bahasa Indonesia bukan terjemahan kelas dua dari produk yang mengutamakan bahasa Inggris. Bagi banyak orang yang akan memakai ini, bahasa Indonesia justru yang benar-benar mereka pakai di penghujung hari yang berat. Memperlakukan keduanya setara sejak awal adalah satu-satunya cara membuat itu benar-benar nyata, bukan sekadar diucapkan.